Minggu, Juli 19, 2009

Bagaimana Memelihara Relasi Dengan Resep STMJ

Ya, istilah STMJ beberapa tahun lalu pernah sangat popular. STMJ kependekan dari Susu Telor Madu Jahe, sebuah minuman yang meramukan keempat unsur tadi menjadi minuman yang dipercaya mempunyai khasiat yang luar bisa bagi tubuh. STMJ diyakini bisa mengembalikan stamina yang terkuras , menambah tenaga dan vitalitas pria. Saking popularnya banyak warung – warung pinggir jalan yang menawarkan ramuan STMJ dan bahkan dunia industripun melirik sehingga akhirnya banyak produk minuman STMJ instan / kemasan yang dijual di pasaran. Apakah anda termasuk penggemar STMJ dan percaya akan khasiatnya ?


Manusia dalam kehidupannya, membutuhkan harmoni atau keselarasan dalam hal relasi atau hubungan baik secara vertikal maupun horisontal. Vertikal dalam hubungannya dengan Yang Mahakuasa, horisontal dengan sesamanya manusia. Jika salah satu relasi ini terganggu, maka kemungkinan besar akan mengganggu relasi yang lain. Bisa kita bayangkan, bagaimana seseorang dapat mencintai keluarga atau sahabat, apabila ia hanya melihat Sang Mahakuasa sebagai sosok penghukum, tidak bersahabat dan tidak pernah mau memperdulikan nasibnya ?

Dalam realitanya, relasi ini bisa mengalami pasang surut, kadang baik, kadang tidak bagus. Untuk bisa mempertahankan relasi supaya tetap bagus, atau memperbaiki relasi yang sedang goyah, ternyata cukup mujarab juga pakai STMJ. “ Wah, kok bisa ? “ Ya, bisa asal dengan dosis yang sesuai yaitu 5 x sehari. Maksudnya adalah prinsip 5 STMJ ini bisa dipakai untuk membuat relasi kita lebih harmonis dan menyenangkan.


5 S


Salam. Mulailah selalu hari dan aktivitas kita dengan ucapan salam. Kepada anak, istri, teman kantor, tetangga atau siapapun yang kita jumpai. Kita sendiri pasti akan senang jika disapa teman, walaupun hanya sekedar ‘say hello’ tapi hal ini akan menunjukkan bahwa orang tersebut menyukai kita dan ingin ber-relasi dengan kita. Kalau kita senang diperlakukan demikian, perlakukanlah orang lain seperti itu.


Sapaan. Menyapa lebih dalam dari sekedar salam. Tanyakan kabar teman, atau jika ada keluarga teman yang sakit tanyakan kabarnya, sampaikan harapan semoga lekas sembuh. Hal-hal yang terlihat sepele seperti ini akan berarti besar bagi orang yang disapa, menunjukkan perhatian kita kepada orang lain. Dengan catatan sampaikan salam dengan tulus dan ramah, tidak dibuat – buat.


Senyum. Suatu perbuatan sederhana yang mampu merubah banyak hal. Berikan senyum pada orang-orang yang kita jumpai dan berinteraksi dengan kita. Senyum yang tulus akan memberikan atmosfir yang positif dan menyenangkan di sekitar kita.


Sopan. Orang bilang lidah bisa lebih tajam daripada pisau. Ya, tutur kata yang menyakitkan kadang bisa menusuk hati dan meninggalkan luka di hati orang lain dan luka yang satu ini sulit untuk disembuhkan. Karena itu aturlah tutur kata kita dengan baik, sehingga bukannya menusuk tetapi bahkan bisa menyejukkan hati orang yang mendengarnya. Tutur kata yang sopan tidak hanya baik diberikan kepada orang yang lebih tua atau lebih tinggi jabatannya saja, tetapi kepada setiap orang bahkan yang jauh lebih muda sekalipun.


Santun. Tutur kata yang sopan akan semakin lengkap jika dibarengi dengan perilaku yang santun. Sikap yang santun akan menunjukkan penghargaan terhadap lawan bicara kita. Dan jika orang lain merasa dihargai maka dia pun akan menunjukkan sikap penghargaan kepada kita.


5 T


Taat kepada Allah Yang Maha Kuasa. Kita manusia adalah cipataan-Nya, maka wajib bagi kita untuk selalu tunduk pada perintah-Nya. Apapun agama dan kepercayaan yang kita anut, semua bermuara pada penghormatan kepada Sang Pencipta. Pahami dan dan taati setiap perintah dan larangan – Nya


Taat pada agama. Agama merupakan sarana atau media kita berkomunikasi dengan Sang Pencipta. Apapun agama yang kita anut, ajarannya pasti mengarah pada penghormatan dan pemujaan pada Yang Mahakuasa serta kebaikan dan penghargaan kepada sesama manusia. Taatilah ajaran – ajaran agama kita, niscaya relasi kita dengan Sang Pencipta dan sesama akan baik.


Taat pada pemerintah / lingkungan. Dimanapun kita berada akan selalu berhadapan dengan regulasi, aturan, hukum, dsb. Hal – hal ini dibuat untuk mengatur tatanan dalam hidup bermasyarakat, interaksi antar seseorang dengan orang lainnya. Jika setiap individu di dalamnya taat pada norma-norma yang ada, niscaya keharmonisan dalam masyarakat bukan lagi sekedasr mimpi yang sulit terwujud.


Taat pada orangtua. Orang tua dipercaya sebagai ‘wakil’ dari Sang Pencipta yang berkewajiban untuk membuat hidup kita selalu berada pada ‘track’ yang benar. Orangtua yang baik pasti akan selalu berbuat yang terbaik untuk anak-anaknya. Disamping itu orangtua kita pasti telah mempunyai pengalaman hidup yang jauh lebih banyak daripada kita. Dengan demikian sudah selayaknyalah jika taat pada nasihat dan bimbingan yang diberikan orangtua kepada kita.


Taat pada diri sendiri. Terakhir, taatilah diri sendiri. Lho, bagaimana caranya ? Hati Nurani, ya hati nuranilah yang harus kita dengar dan ikuti, terutama jika kita menemui kesulitan dan kebimbangan dalam menentukan sebuah keputusan yang krusial dalam hidup kita. Hati Nurani merupakan representatif dari nilai-nilai kebenaran dan moral yang pernah masuk dalam diri kita. “ Follow your heart !”


5 M


Mencintai. Ya, Cinta adalah “the magic word” yang bisa menjadi kunci kedamaian dalam hati. Kita tidak akan mungkin merasa damai di rumah kalau kita tidak mencintai keluarga. Kita tidak akan damai di tempat kerja kalau kita membenci rekan-rekan kerja. Rasa benci, dengki, tidak akan pernah membawa kedamaian. Benar, tidak semua orang mencintai kita bahkan mungkin ada yang benci, tapi apakah kita harus membalas kebencian mereka dengan rasa benci juga ? Tidak perlu, malah balaslah kebencian mereka dengan cinta. Sapa mereka dengan segala keramahan kita, doakan segala yang baik buat mereka. Kalau kita bisa melakukan ini buat orang yang membenci kita, pasti tidak sulit jika kita lakukan hal yang sama bagi mereka yang mencintai kita. Bukan begitu..? Bagi mereka yang mampu melakukan ini, niscaya kedamaian akan menjadi milik mereka.


Melayani. Saya tahu melayani bukan pekerjaan favorit. Kita semua pasti lebih suka untuk dilayani, apalagi kalau kita boss. Melayani bukan berarti menjadi pelayan, melainkan membiarkan orang lain memetik manfaat dari keberadaan kita. Dengan demikian keberadaan kita akan senantiasa dibutuhkan oleh orang lain. Karena itu berbahagialah orang yang mampu dengan ikhlas dan kerendahan hati, karena dia akan menjadi cahaya yang akan selalu dicari.


Mengampuni. Ini juga bukan pekerjaan gampang, apalagi bila kita telah merasakan sakit dan penderitaan yang lumayan berat akibat perbuatan orang lain, apalagi kalau itu sengaja. Wajar jika amarah atau mungkin dendam akan menyelimuti hati kita. Ya, namanya juga manusia. Tetapi kalau kita mau sedikit merenung, akankah ada kedamaian di hati jika amarah atau dendam masih ada di hati ..? Amarah atau dendam bagaikan api yang berkobar-kobar. Tidak jarang api ini dapat membakar hati manusia sehingga dapat melakukan hal-hal diluar akal sehat, bahkan diluar norma hukum. Apakah kita mau seperti itu ? Lalu bagaimana kita meredam api tersebut ? Dekatkanlah diri kita pada Tuhan YME. Tuhan kita adalah Maha Pengampun. Dia saja mau mengampuni umat-Nya yang bertobat, masakan kita yang hanya manusia tidak mau mengampuni sesama ?


Menerima pertentangan dengan Gembira. Tidak semua orang sependapat dengan kita. Kalau dibalik kitapun juga tidak selalu sependapat dengan orang lain, bukan ..? Karena itu bisa saja suatu saat kita ditentang oleh orang lain, apakah secara pribadi empat mata atau bahkan dalam suatu forum meeting misalnya. Bagaimana kita menghadapinya ? Prinsip bahwa jangan balik menyerang orang yang menentang kita, jangan remehkan pendapatnya. Lho, memangnya kenapa ? Lha wong dia saja menentang pendapat kita kok ! Coba jika situasinya dibalik, kita yang berbeda atau menentang pendapat orang lain dan orang tersebut balik menyerang atau bahkan meremehkan kita. Apakah kita menyukainya, atau bisa menerima begitu saja ? Saya yakin tidak, karena itu janganlah kita memperlakukan orang lain seperti itu. Hargailah pendapat orang lain seberapapun bedanya dengan kita.


Mengalah. Waduh, apalagi ini ? Ya, kebanyakan orang akan berpendapat kalau kita mengalah berarti menunjukkan bahwa kita adalah orang yang lemah. Benarkah demikian ? Belum tentu. Mengalah disini sangat jauh berbeda dengan sikap membiarkan diri kita disakiti, direndahkan, dilanggar hak-haknya atau yang biasa dikenal dengan sikap permisif. Mengalah disini, dengan sikap yang elegan mengecilkan arti diri kita dan membesarkan arti orang lain dengan cara mengakui kebenaran pendapatnya, kehebatan idenya, memuji keberhasilannya, dsb. Kita sendiripun pasti senang jika diakui atau dipuji bukan ? Nah, kalau begitu lakukan itu terhadap orang lain.


5 J


Jangan mencampuri urusan orang lain. Urusan orang lain jelas buklan urusan kita, tak ada orang yang senang jika urusannya apalagi pribadi dicampuri oleh orang lain, termasuk kita, bukan.. ? Karena itu tak ada untungnya kita melakukan hal itu, malah bisa – bisa timbul kesalahpahaman dan konflik. Runyam jadinya. Biarkan saja orang lain dengan urusannya, sejauh hal tersebut tidak mengganggu keberadaan kita. Terkecuali jika bantuan atau nasihat kita diperlukan oleh teman yang sedang ada masalah, mungkin lain perkara, itupun kita harus bisa melakukan dengan hati – hati dan proporsional. Jangan sampai nasihat atau bantuan kita tidak menyelesaikan masalah atau bahkan memperbesar dan menimbulkan masalah baru.


Jangan meremehkan orang lain. Setiap orang pasti memiliki kelebihan dan kekurangan. Jangan jadikan kekurangan orang lain sebagai bahan olok – olok atau celah untuk meremehkan menyerang atau bahkan menjatuhkan orang lain. Jika kita lakukan hal ini, artinya kita sudah menyakiti seseorang dan mungkin saja kita sedang menginvestasikan kebencian dalam diri orang lain. Ya, tinggal bersiap-siap memetik hasilnya. Apa yang kita tanam, itulah yang kita petik.


Jangan berburuk sangka. Penting sekali untuk selalu berpikir positif. Kelihatannya klise ya ? Hanya saja kalau kita mau sedikit merenung, banyak sekali masalah, konflik yang timbul akibat dari prasangka – prasangka negatif. Belakangan ini ada sebuah televisi swasta yang menayangkan acara ” Masihkah Kau Mencintaiku ?”, sebuah acara yang menayangkan pasangan suami istri yang sedang mengalami konflik berat dan bahkan berada di ambang perceraian. Kalau kita sedikit jeli melihat hal-hal yang menjadi latar belakangnya, sebagian besar tejadi akibat prasangka-prasangka negatif terhadap pasangannya. Saya yakin bahwa hal ini juga bisa berlaku untuk relasi – relasi lainnya, tidak hanya relasi pasangan suami istri. Memang tidak mudah untuk selalu berpikir positif, tapi hal ini bisa dilatih. Cobalah untuk memasang tombol ’switch’ di otak dan jika ketemu suatu persoalan dan mulai berpikir negatif, maka cepat putar tombol ’switch’ tadi ke posisi positif.


Jangan menghakimi orang lain. Seringkali tanpa sadar kita mudah memvonis seseorang sebagi orang yang salah, keliru, pecundang, atau telah berbuat hal menyimpang, dsb. Pada contoh yang ekstrim bisa kita lihat pada para eks narapidana. Masyarakat kita umumnya masih belum bisa menerima dengan legowo atas kehadiran eks narapidana di lingkungannya, apalagi jika recordnya lumayan buruk. Hal ini karena vonis yang berlebihan dan tidak proporsional bahwa sekali orang berbuat salah, selamanya tidak akan benar. Coba lihat sekeliling kita, adakah situasi serupa ? Di lingkungan rumah, keluarga atau bahkan ditempat kerja ? Manusia seringkali lupa bahwa sebagai manusia kita tidak punyak hak atau wewenang untuk memvonis atau menghakimi sesama (kecuali para hakim, itupun hanya sebatas pada hukum yang dibuat manusia). Untuk hukum dari Sang Pencipta, ya hanya Dia lah yang punya hak dan wewenang untuk menghakimi manusia.


Jangan mengharapkan pujian atau penghormatan. Tidak jarang kita saksikan melalui liputan media dimana seorang tokoh atau selebritis yang sedang melakukan aksi derma bagi sekumpulan warga, panti asuhan, dll. Saya sendiri tidak tahu apakah liputan media ini merupakan bagian dari tujuan sang tokoh tadi untuk “memamerkan” kedermaannya. Semoga saja tidak, karena kalau ya saya kira cukup menyedihkan. Ada pamrih dari perbuatannya tersebut. Karena itu berbahagialah kita yang melakukan hal-hal baik semata-mata hanya untuk memuliakan orang lain. Tuhan Yang Mahakuasa pasti akan melihat dan memuliakan kita pada saatnya nanti.


Semua prinsip di atas pada akhirnya bermuara pada satu prinsip : “ PERLAKUKANLAH ORANG LAIN SEBAGAIMANA KITA INGIN DIPERLAKUKAN “


Selamat Mencoba !

Tidak ada komentar: